Oleh: kendalisodo | 11 April 2009

MAKNA SEBUAH SOLIDITAS TNI

Raiders_0035Kiranya tidak berlebihan bila amanat Panglima Besar (Jenderal Besar) Soedirman sebagai refleksi historis masih relevan untuk diaktualisasikan sebagai sumber motivasi TNI dalam rangka menjaga soliditasnya, yaitu : “Satunya-satunya hak milik nasional republik yang masih utuh tidak berubah-ubah, adalah hanya Angkatan Perang Republik Indonesia (TNI). Tentara akan tetap hidup sampai akhir zaman, jangan menjadi alat oleh suatu badan atau orang, tentara akan timbul dan tenggelam bersama-sama negara. Kamu sekalian harus insyaf dan senantiasa ingat, bahwa tentara kita bukan aparat yang mati, tetapi aparat yang hidup“.

Dari sesanti tersebut dapatlah kita tangkap pesan moral bahwa di dalam hidup berbangsa dan bernegara ini senantiasa ada upaya dan berbagai kelompok anak bangsa untuk melakukan manuver-manuver untuk kepentingan sempit kelompoknya dan ironisnya untuk mewujudkan cita-cita kelompoknya itu, tidak segan-segan melakukan tindakan yang tidak terpuji, memojokkan dan bahkan menghancurkan kelompok/institusi lain yang dianggap menghalangi tujuan kelompoknya dan institusi yang hingga saat ini masih kosisten terhadap perjuangan bangsa adalah TNI.

Tidaklah heran apabila sejak digulir institusi TNI tidak henti-hentinya mengalami cobaan, koreksi dan kritik yang diterima manakala terdapat anggota melakukan hal-hal yang dianggap melanggar norma/hukum sebagai contoh : kita mendengar bahwa ada rumor yang mengatakan bahwa soliditas TNI, saat ini sedang mengalami ujian, ditandai dengan terjadinya beberapa peristiwa bentrokan antara aparat TNI dengan Polisi diberbagai tempat setelah diberlakukannya Tap MPR No. VI dan VII tahun 2000. Sehingga muncul berbagai tanggapan dan opini yang sengaja diluncurkan oleh pihak-pihak yang tidak menginginkan soliditas TNI untuk kepentingan kelompoknya.

Walaupun banyak orang yang telah mengetahui bahwa TNI telah melakukan berbagai upaya dalam rangka menyikapi tuntutan reformasi untuk mengubah pemikiran, sikap dan perilaku yang dahulu pernah dilakukan dan dianggap tidak sesuai dengan keinginan rakyat, kearah yang lebih baik sesuai konstitusi.

Bila institusi TNI diibaratkan sebuah keluarga besar, di mana Bapak/Ibu sebagai orang tua atau kepala keluarga telah berupaya untuk menanamkan etika, moral, nilai-nilai hidup dan agama kepada anggota keluarga (anak-anaknya) sehingga diharapkan anggota keluarga tersebut dapat berbuat yang terbaik di dalam kehidupannya bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tetapi kenyataannya, di luar batas kemampuan pengawasan orang tua tersebut, tidak dijamin semua anak/anggota keluarga akan dapat melakukan harapan dan keinginan orang tuanya, tidak mustahil ada salah satu anak yang berbuat tidak sesuai dengan harapan orang tua.

Begitu institusi TNI dengan 350.000 orang prajurit, apabila ada satu atau dua orang yang melakukan tindakan indisipliner atau bahkan perbuatan pidana / perdata, maka itu bukanlah sesuatu yang tidak mustahil walaupun setiap saat para prajurit telah diingatkan oleh para pimpinannya dan dipagari dengan berbagai peraturan dan ketentuan yang harus dipatuhi, namun pelanggaran dari segelintir oknum prajurit tersebut, tidaklah dapat dijadikan sebagai ukuran tidak solidnya institusi TNI.

Pada era reformasi ini TNI telah bertekad untuk memperbaiki citra melalui Paradigma Baru TNI, yang selanjutnya oleh TNI AD ditindaklanjuti dengan upaya-upaya pengembalian citra TNI AD melalui pembenahan jati diri prajurit dan meningkatkan profesionalisme, disiplin dan perlunya peningkatan soliditas TNI, yang akhir-akhir ini lebih dipertegas dengan dikeluarkannya “Lima Pedoman Pelaksanaan Tugas Prajurit dan Pegawai Negeri Sipil TNI AD” adalah menunjukkan niat yang baik dan usaha untuk mengarah kepada hal yang lebih baik, walaupun disadari di dalam perjalanannya masih dirasakan ada kekurangan di sana-sini, tetapi paling tidak semangat kearah untuk mewujudkan TNI yang baik sesuai amanat rakyat sedang dan terus diupayakan.

Memang tidaklah mudah untuk membangun sesuatu citra yang pernah runtuh, untuk memugarnya kembali menjadi sesuatu yang kokoh kuat dan didambakan oleh rakyatnya, setidaknya pernah ada ciri yang begitu membekas disebagian masyarakat tertentu dan apa yang pernah dilakukan oleh oknum TNI, tetapi walaupun demikian tidaklah adil apabila semua itu sekonyong-konyong kesalahan ditumpahkan hanya kepada TNI, walaupun sebenarnya masyarakat mengetahui bahwa TNI adalah hanya sebagian kecil dari sebuah sistem yang saat itu sedang berkuasa.

Di dalam kilas balik perjuangan, TNI pemah mengalami berbagai keadaan yang sulit dan membutuhkan soliditas dalam menangani persoalan pada masanya (pada masa perang kemerdekaan, pada masa pemerintahan konstitusi RIS, pada masa orde baru dan pada masa reformasi dan justru pada masa paska reformasi ini dirasakan TNI dalam kondisi yang paling solid).

Menurut kamus besar Bahasa Indonesia, soliditas berarti kekuatan, kekokohan, kekukuhan dihadapkan dengan tantangan dan perubahan. Secara makro makna soliditas di samping kekuatan juga dapat diartikan dengan ikatan/kohesi, keterpaduan, yang dalam istilah militer disebut jiwa korsa atau adanya semangat keterpaduan diantara pasukan yang senasib dan seprofesi baik secara vertikal maupun secara horizontal. Kondisi solid, kokoh, kuat tak terpisahkan itu dapat berpangkal pada orientasi fisik instrumental dan dan aspek kejiwaan atau motivasi.

Kondisi solid yang berorientasi secara fisik instrumental dapat digambarkan dan berawal dari : organisasi, disiplin, sistem nilai (etika dan sanksi), doktrin dan hierarkhi serta rentang kendali yang ada dan biasanya digunakan untuk pembinaan moril anggota dalam rnenumbuhkan jiwa korsa (esprit de corps). Selanjutnya soliditas yang bersifat kejiwaan atau motivasi yang muncul dari dalam adalah rasa senasib dan sepenanggungan, memiliki kebanggaan satuan/profesi, mau dan sanggup berkorban, keterikatan batin dan kesadaran persatuan, kebersamaan, loyalitas dan memegang teguh azas serta tujuan yang telah disepakati bersama, wujud soliditas semacam ini tak mudah pecah atau dipisahkan karena ada unsur moral didalamnya.

Dari kondisi tersebut dapatlah diambil untuk mewujudkan soliditas dalam satuan bahkan dalam institusi TNI, apabila hal-hal yang bersifat fisik maupun kejiwaan tadi dapat diwujudkan. Sebagai contoh beberapa kunci untuk dapat membangun soliditas satuan antara lain :
• Adanya saling keterbukaan (open manajement) dalam satuan sehingga seluruh anggota mengetahui kondisi satuan dan saling mempercayai antara pimpinan dan yang dipimpin, masing-masing dapat melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan baik, serta dapat menjaga amanah yang dipercayakan kepadanya. Karena sesungguhnya tugas itu satu dan sudah dibagi habis sesuai dengan organisasi yang menanganinya.

• Tidak melakukan langkah-langkah yang diluar komando atau yang telah ditetapkan oleh pimpinan, sehingga semua tindakan dapat terkontrol dan terkoordinasi dengan baik.
• Siap menerima kritik dan saran yang konstruktif dan membangun dalam alam keterbukaan, manakala sesuatu belum diputuskan. Tidak memandang dari mana kritik itu lahir, tetapi lebih melihat apa dan bagaimana isi dari kritik yang disampaikan, Karena kita telah hidup dalam alam demokrasi bukan alam feodal.
• Tetap consen dalam menjaga keutuhan bangsa dan negara, walau berbagai cobaan dan silang pendapat terjadi, namun kita tetap harus mengutamakan keutuhan bangsa dan tetap tegaknya NKRI.
• Memegang teguh norma yang telah menjadi pegangan hidupnya seperti Pancasila, Sapta Marga dan Sumpah Prajurit serta mekanisme yang telah berlaku di dalam institusi TNI.
• Loyalitas dan kesetiaan adalah mutlak dan hanya ditujukan kepada negara, bukan kepada kelompok atau kepada pemegang kekuasaan tertentu.
• Tegakkan kepemimpinan yang mengedepankan kesetiaan. baik kesetiaan kepada atasan, kesetiaan kepada bawahan dan kesetiaan kepada sesama teman seperjuangan.

Khususnya masalah kepemimpinan perlu mendapatkan perhatian, kesalahan dalam pengetrapan kepemimpinan dapat melunturkan jiwa persamaan, karena tidak adanya kepercayaan antara yang dipimpin kepada yang memimpin, kejujuran, kesetiaan, keteladanan harus dapat dikedepankan untuk dapat mewujudkan kebersamaan antara yang dipimpin dan yang memimpin. Dan kebersamaan tersebut akan muncul kepercayaan, selanjutnya dengan sendirinya akan tumbuhlah kesetiaan persatuan yang kokoh kuat baik secara fisik maupun secara kejiwaan.

Dalam menghadapi berbagai sorotan dan kritikan dari pihak-pihak yang tidak menginginkan soliditas TNI, harus dapat disiasati dengan mengedepankan soliditas fisik serta diikuti dengan solidaritas kejiwaan, terutama dalam upaya membangun opini masyarakat perlu diikuti dengan profesionalisme serta disiplin yang tinggi sehingga rakyat melihat dan dapat menilai keadaan yang sesungguhnya. Hal tersebut memang membutuhkan waktu sehingga perlu adanya kesabaran, baik kesabaran dalam mengikuti bergulirnya waktu maupun kesabaran dalam menyikapi sorotan, kritikan bahkan tudingan yang ditujukan untuk memecah belah dan merusak soliditas TNI.


Responses

  1. Menurut saya, soliditas TNI patut dijadikan contoh bagi yang bukan TNI. Salam.

  2. saya suka dengan sewmua nya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: