Oleh: kendalisodo | 7 Februari 2009

Sebuah Renungan

Apakah makna hidup saya?

Kenapa hidup saya terasa datar saja,

berputar-putar dari hari ke hari?

Hanya pergantian episode senang dan sedih?

Mengapa saya seperti dikuasai oleh kehidupan saya?’

dan untuk apa semua ini?


Sebenarnya, Allah setiap saat ‘memanggil-manggil’ kita untuk kembali kepada-Nya. Dengan cara apa saja, dengan kasih sayang-Nya, terkadang membuat suasana kehidupan seorang anak manusia sedemikian rupa sehingga kalbunya dibuat-Nya ‘menoleh’ kepada Allah. Hanya saja, teramat sedikit orang yang mendengarkan, atau berusaha mendengarkan, panggilan-Nya. Allah terkadang membuat kita terus menerus gelisah, atau terus menerus mempertanyakan ‘Siapa diri saya ini sebenarnya? Apa tujuan saya? Apa makna kehidupan saya?,’ dan sebagainya. Bukankah kegalauan semacam ini adalah sebuah seruan, panggilan supaya kita mencari sebuah kesejatian? Mencari kebenaran? Mencari ‘Al-Haqq’? Allah, percayalah, akan selalu menurunkan pancingan-pancingan pada manusia untuk mencari-Nya.

Dalam hal ini, Allah amatlah pengasih.

Apakah seseorang percaya kepada-Nya atau tidak,

beragama atau tidak,

Apakah seseorang membaca kitab-Nya atau tidak,

percaya pada para utusan-Nya ataupun tidak.

Setiap orang pasti dipanggil-Nya seperti ini untuk mencari kesejatian, untuk mencari hakikat kehidupan. Bentuk ‘pancingan’ semacam ini pula yang dialami oleh para pencari, maupun para Nabi.

“Manusia diciptakan untuk beribadah!! segala jawaban telah ada di Qur’an!!”
Oke, tapi ibadah yang seperti apa?

Bisakah kita benar-benar beribadah,tanpa mengetahui maknanya?

Atau lebih jauh lagi, mampukah kita menjangkau makna Al-Qur’an?

Beranikah kita jujur pada diri kita sendiri: Jika Al-qur’an benar, mengapa kegelisahannya tidak hilang?

Mengapa qur’an seperti kitab suci yang tidak teratur susunannya?

Mengapa ayatnya kadang melompat-lompat,dari satu topik ke yang lainnya secara mendadak?

Jika kita beriman,apakah iman itu?

Apakah takwa itu?

Apakah Lauhul Mahfudz?

Apakah Ad-diin?

Apakah Shiratal Mustaqim?

Jalan yang lurus yang bagaimana?

Mengapa qur’an terasa abstrak dan tak terjangkau makna sebenarnya?
Ini sebenarnya pertanyaan-pertanyaan jujur, dan sama sekali bukan menghakimi Al-qur’an. Kadang orang terus saja mengindoktrinasi dirinya sendiri, padahal qur’an sendiri menyatakan bahwa tidak ada yang mampu menjangkaunya selain orang-orang yang disucikan. Apakah kita berani yakin bahwa kita adalah seorang yang telah disucikan, sehingga makna Al-qur’an telah terbentang begitu jelas dihadapannya?

Jika demikian, apa gunanya pernyataan : “Semua jawaban telah ada di Qur’an” baginya?
Apakah kita akan terus saja membohongi diri dengan membaca terjemahan Al- qur’an dan memaksakan diri meyakini bahwa kita telah mendapatkan maknanya?
Jeritan jiwanya tersebut kita timbun dengan segala cara. kita tidak ingin mendengarkannya. Hal ini, sudah barang tentu akan membuat seseorang semakin terperangkap saja dalam rutinitasnya, dan semakin terkuburlah potensi pencariannya akan kebenaran. Padahal seharusnya ‘jeritan jiwa’ tersebut didengarkan. Jika anak kita menangis karena lapar, apakah kita akan pergi bersenang-senang untuk melupakannya, dan berharap anak kita akan berhenti menangis dengan sendirinya?

Bukankah seharusnya kita mencari tahu, kenapa anak kita menangis?
Kembali kepada kisah Musa as. Demikian pula Musa, ia pun, sama sebagaimana kita semua, sejak kecil dibekali pertanyaan-pertanyaan dari dalam dirinya. Dibekali kegelisahan pencarian kebenaran. Bibit-bibitnyaada. Allah, untuk menumbuhkan bibit-bibit pencariannya itu supaya tidak terkubur dalam kemewahan kehidupan istana, menyiramnya dengan kebingungan yang lebih besar lagi. Ia dipaksa-Nya menelan kenyataan bahwa ayahnya pernah membantai jutaan bayi lelaki Bani Israil. Ia dipaksaNya menelan kenyataan bahwa ayahnya menganggap Bani Israil adalah warga kelas dua yang rendah, bodoh,dan memang patut diperbudak. Puncaknya, ia dipaksaNya menelan kenyataanbahwa dirinya sendiri ternyata merupakan seorang anak Bani Israil,keturunan warga budak kelas dua, yang dipungut dari sungai Nil.

Pada saat. . . . .pada diri seorang Pangeran Musa lenyaplah sudah harga dirinya. Hancur semua masa lalunya. Dia seorang tanpa sejarah diri sekarang. Ditambah lagi ia telah membunuh seorang lelaki, maka larilah ia terlunta-lunta, menggelandang di padang pasir, mempertanyakan siapa dirinya sebenarnya.

Justru, pada saat inilah ia berangkat dengan pertanyaan terpenting bagi seorang pejalan suluk, yang telah tumbuh disiram subur oleh Allah dengan air kegalauan: “Siapa diriku sebenarnya?”.
Pertanyaan ini telah tumbuh kokoh dalam diri Musa as., dan sebagaimana kita semua mengetahui kisah lanjutannya, di ujung padang pasir Madyan ada seorang pembimbing untuk menempuh jalan menuju Allah ta’ala, yaitu Nabi Syu’aib as, yang lalu menyuruh anaknya untuk menjemput Musa dan membawa Musa kepadanya. Di bawah bimbingannya, Musa dididik menempuh jalan taubat, supaya “arafa nafsahu”, untuk “arif akan nafs (jiwa)-nya sendiri”. Dan dengan bimbingan Syu’aib akhirnya ia mengerti dengan sebenar-benarnya (ia telah ‘arif), bahwa dirinya diciptakan Allah sebagai seorang Rasul bagi bangsa Bani Israil, bukan sebagai seorang pangeran Mesir. Ia menemukan kembali misi hidupnya, tugas kelahirannya yang untuk apa Allah telah menciptakannya. Ia telah menemukan untuk apa dia diciptakan, yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Setiap orang dimudahkan untuk mengerjakan apa yang telah Dia ciptakan untuk itu.”)
Pertanyaan “Siapakah aku? dan,Untuk apa aku diciptakan?” harus benar-benar telah tumbuh dalam diri kita (dan itu pun bukan menjadi jaminan bahwa perjalanannya akan berhasil). Anda memang telah benar-benar butuh jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. dan bukan sekedar mengetahui. dan nafsahu berasal dari kata ‘nafs’, salah satu dari tiga unsur yang membentuk manusia (Jasad, nafs, dan ruh). Jadi, kurang lebih maknanya adalah “barangsiapa yang ‘arif (sebenar-benarnya telah mengetahui) akan nafs-nya, maka akan ‘arif pula akan Rabbnya”.

Jalan untuk mengenal kebenaran hakiki, mengenal Allah, hanyalah dengan mengenal nafs terlebih dahulu. Setelah arif akan nafs kita sendiri, lalu ‘arif akan Rabb kita,
maka setelah itu kita baru bisa memulai melangkah di atas ‘Ad-diin’. ‘Arif akan Rabb, atau sebagaimana kita kenal dalam bahasa Arab disebut ‘Ma’rifatullah’ (meng- ‘arifi Allah dengan sebenar-benarnya), sebenarnya barulah –awal– perjalanan, bukan tujuan akhir perjalanan sebagaimana dipahami kebanyakan orang. Salah seorang sahabat Rasul selalu mengatakan kalimatnya yang terkenal: “Awaluddiina ma’rifatullah”, Awalnya diin adalah ma’rifat (meng-‘arif-i) Allah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: