Oleh: kendalisodo | 27 Februari 2009

Taubat

Dalam perbincangan yang lalu dengan izin Allah kita telah membicarakan tentang hati (roh) dan nafsu serta bagaimana susahnya melawan nafsu (mujahadatunnafsi) sehingga kita selalu gagal menghadapinya. Artinya, kita senantiasa berada dalam dosa. Dosa-dosa itulah yang menjadi hijab antara hamba dengan Allah SWT dan karenanya juga llah memandang hamba-Nya itu dengan penuh benci dan murka. Sehingga terhijab seluruh rahmat dan kasih sayang-Nya.
Kapan ini terjadi, apa saja amal ibadah yang kita buat Allah tidak pandang dan tidak terima. Yakni pahalanya tergantung atau tidak sampai kepada Allah. Bukan itu saja, bahkan di Akhirat nanti, Allah akan hukum dengan Neraka yang maha dahsyat. Oleh itu wajib setiap hamba Allah itu bertaubat dengan segera terutamanya apabila melakukan dosa dan kesalaham
Taubat artinya kembali merujuk kepada Allah yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang serta menyerah diri (surrender) kepada-Nya. Maka orang yang bertaubat ini ialah orang yang datang kepada Allah yang sifatnya Maha Pengampun, Maha Pengasih dan Maha Penyayang, menyerah diri (surrender) pada-Nya dengan hati penuh penyesalan yang sungguh-sungguh. Yakni kesal, sedih, dukacita serta rasa tak patut di atas dosa-dosa yang dilakukan sehingga menangis mengeluarkan air mata. Hati terasa remuk-redam bila memgingati dosa-dosa yang dilakukan itu. Merayu moga-moga Allah sudi mengambil perhatian. Merintih moga-moga Allah mendengar. Memohon agar Allah yang Maha Pengampun akan mengampuninya. Meminta agar Allah memandang dan memberi dengan penuh kasih sayang. Hati remuk-redam itu menjadikan anggota-anggota lahir (mata, telinga, kepala, kaki, tangan, kemaluan) tunduk dan patuh kepada syariat yang Allah tetapkan dan berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan-perbuatan durhaka itu.
Itulah pengertian taubat. Tidak seperti setengah-setengah orang memahami pengertian taubat selama ini. Kata mereka, cukup dengan mengucapkan istighfar di mulut saja tanpa hati merasa bersalah dan berdosa. Oleh karena itu tidak semudah itu pula Allah menerima taubat hamba-hambaNya, kecuali setelah menempuh syarat-syarat (proses) yang telah ditetapkan-Nya.
Syarat-syarat taubat dapat dibagi menjadi dua, seperti dosa dan pahala terbagi kepada dua. Yaitu syarat taubat diatas dosa dan kesalahan kepada Allah dan juga dosa dan kesalahan kepada sesama manusia. Antara syarat-syarat taubat yang berhubungan dengan Allah ialah :
Pertama:
Menyesal sungguh-sungguh di atas dosa-dosa yang telah dilakukannya. Yakni terasa kesal, sedih, dukacita, rasa tidak sepatutnya melanggar syariat Allah. Sekaligus datang perasaan menyerah diri pada-Nya.
Kedua:
Berazam sungguh-sungguh tidak akan mengulangi lagi perkara-perkara yang menjadi larangan Allah itu.
Ketiga:
Meninggalkan perkara-perkara yang mendatangkan dosa kepada Allah baik dosa besar maupun dosa kecil.
a. Diantaranya contoh dosa-dosa besar ialah meninggalkan shalat, tidak puasa, meramal nasib, minum arak, zina, judi, sogok, riba, memfitnah, mengumpat, membunuh dan lain-lain lagi.
b. Diantara dosa-dosa kecil ialah membuka aurat, bergaul bebas antara lelaki dan perempuan, melihat aurat yang bukan muhrim, mendengar nyanyian yang menaikkan nafsu syahwat, bercakap-cakap yang cabul, bergurau berlebih-lebihan, membazir dan lain-lain lagi.
Oleh karena itu kalaulah selama ini ia terlibat dengan perbuatan yang haram (seperti riba, minum arak, dll) maka dia tidak akan buat lagi atau terus meninggalkan perbuatan tersebut. Juga kalau ia terlibat dengan dosa meninggalkan perkara-perkara wajib (seperti tinggal shalat dan tinggal puasa), maka ia takkan meninggalkannya lagi. Artinya ia terus melaksanakan perkara-perkara yang wajib dengan bersungguh-sungguh dan membayar (qada’) segala perintah wajib yang tertinggal itu.
Sekiranya seseorang itu berbuat dosa dan kesalahan yang ada hubungan sesama manusia, antara syarat-syarat taubt yang harus ditempuhnya ialah :
Pertama:
Menyesal sungguh-sungguh di atas segala kesalahan atau kejahatan yang dibuatnya yang ada hubungan dengan orang lain itu. Rasa sedih, dukacita dan rasa tidak patut dia berbuat begitu, benar-benar terasa di hatinya.
Kedua:
Berniat sungguh-sungguh meninggalkan (atau tidak mengulangi) perkara-perkara yang mendatangkan dosa yang ada hubungan dengan manusia.
Ketiga:
Meninggalkan semua perkara-perkara yang mendatangkan dosa kepada manusia.
Keempat:
Meminta maaf atau minta redha (halal) di atas dosa-dosa dengan manusia (orang yang bersangkutan) atau membayar gantirugi atau memulangkan barang yang telah diambil itu. Dosa-dosa sesama manusia ini kalau hendak kita sebutkan terlalu banyak. Secara ringkasnya, ia dapat dibagikan menjadi empat kategori, yaitu:
1. Dosa yang ada hubungan dengan harta seperti htang yang tidak dibayar, harta yang dicuri, dirampas, ditipu, dibinasakan dan lain-lain lagi. Ini semua harus minta dihalalkan atau harus minta maaf kepada orang yang bersangkutan, atau harus dibayar hutang tersebut, atau harus dibayar berupa gatiruginya dan seumpamanya.
2. Dosa yang ada dengan hubungan pribadi, seperti memukul, menempeleng, menyubit, merotan, mendera seperti push up, mengikat dirinya, merantai, menyiksa dengan benda-benda tajam atau binatang bisa, mencacatkan anggota atau memotong anggotanya, mengurung atau memenjarakan dan lain-lain. Dosa-dosa ini semuanya harus ditebus dengan meminta maaf kepada orang yang berkenaan. Atau menerima hukuman mengikut ketentuan dari syariat, sekiranya orang itu meminta dikenakan hukuman diatas perbuatan kita itu.
3. Dosa yang ada hubungan dengan kehormatan atau agamanya. Seperti memberi malu di kalangan khalayak ramai, mengumpat dirinya, menghina dia, menuduh dia dengan tuduhan-tuduhan yang tidak benar, fitnah dan lain-lain kesalaahn. Ini semua harus ditebus dengan minta maaf atau minta redha.
4. Dosa yang ada hubungan dengan keluarganya, seperti pernah memegang-megang, meraba-raba, mencium-cium anak gadisnya atau menzinai anggota keluarganya atau membunuh ahli keluarganya dan lain-lain. Maka hendaklah minta maaf dan minta redha dari keluarganya. Kalau mereka tidak redha atau tidak memaafkan, maka mesti sanggup untuk diapa-apakan saja oleh pihak keluarganya itu. Misalnya, apakah dipukul, ditempeleng, dan sebagainya, mengikut yang ditentukan oleh syariat seperti yang disahkan oleh mahkamah.
Disini dapat kita lihat, bahwa bertaubat atas dosa kepada sesama manusia lebih berat daripada dosa kepada Allah. Ia harus menempuh empat syarat tetapi dosa kepada Allah hanya cukup menempuh tiga syarat saja. Jadi semua tuntutan syariat ini harus dibuat mengikut kaedah-kaedah tadi barulah taubat itu diterima Allah. Sungguhpun begitu bukan mudah untuk menunaikan syarat-syarat ini melainkan setelah memiliki hati yang benar-benar ikhlas dan surrender (menyerah sebulat hati) pada-Nnya. Kalau tidak dapat menunaikan syarat-syarat ini, tetap juga taubat itu tidak diterima. Orang yang egonya tinggi amat berat untuk bertaubat. Lebih-lebih lagi dosa yang dilakukan itu kepada sesama manusia.
Begitulah kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya kalau mereka membuat dosa-dosa, masih ada peluang bertaubat untuk mendapatkan keampunan dari Allah dengan menempuh syarat-syarat yang telah disebutkan. Kecuali dosa-dosa syirik, yang tidak dapat keampunan dari Allah. Ia telah dinyatakan-Nya di dalam firman-Nya yang maksudnya :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa-dosa syirik tetapi mengampuni selain itu”
Maknanya selain syirik, orang-orang yang bertaubat daripada dosa-dosanya akan diampunkan oleh Allah. Apabila diampunkan, maka samalah ia seperti orang yang tidak berdosa. Sabda Rasulullah SAW yang maksudnya :
“Orang yang bertaubat daripada dosa maka sepertilah orang yang tidak berdosa”
Allah juga memberitahu kita dalam firman-firman-Nya yang maksudnya :
“Maka barangsiapa yang bertaubat, sesudah melakukan kejahatan itu dan membaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Setelah Allah memberitahu, Dia juga bertanya kepada kita, Maksudnya :
“Tidakkah kamu tahu, sesungguhnya Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, disiksanya siapa yang dikehendaki-Nya dan diampuni-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”
[Surat 5 ayat 39 & 40]
Allah berfirman lagi, maksudnya :
“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri kemudian dia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
[Surat An Nisa : 110]
Berdasarkan hadis-hadis dan ayat-ayat Al Qur’an tadi dapat dipahami bahwa wajib setiap orang Islam itu bertaubat daripada dosa-dosanya. Supaya tidak menjadi hijab antara dia dengan Allah SWT. Setelah bersih daripada dosa, hijab pun terangkat. Terhubunglah kembali kasih Allah yang terputus selama ini. Dia memandang hamba-Nya itu dengan pandangan penuh kasih sayang sehingga rahmat-Nya melimpah ruah. Justru itu hiduplah si hamba yang bertaubat itu dengan penuh bahagia di dunia dan mendapat balasan Syurga di Akhirat.
Demikianlah jika sebaliknya terjadi. Kalau hamba itu tidak bertaubat daripada dosa-dosanya, artinya dia senantiasa berada dalam keadaan dosa. Maka terhijablah dia dengan Allah SWT. Hubungannya dengan Allah terputus. Di waktu itu Allah memandangnya dengan penuh kebencian dan kemurkaan. Rahmat dan kasih sayang Allah terputus. Sehingga seluruh pahala amal ibadahnya tergantung. Di Akhirat nanti Allah siksa lebih dahulu dengan azab yang amat pedih.
Sebab itu Allah minta dan membujuk hamba-hamba-Nya supaya segera bertaubat. Firman-Nya yang artinya:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhan-Mu dan kepada Syurga yang luasnya seluas langit dan bumi…”
[Surat Ali Imran : 133-136]
Berdasarkan ayat ini Allah meminta kita segera bertaubat. Yakni membersihkan diri dari dosa, dengan menyerah diri sepenuh hati pada Allah, sebelum kedatangan mati atau sebelum bertemu dengan-Nya karena mati itu tidak tahu kapan waktunya. Boleh jadi mendadak datang tiba-tiba. Setelah bertaubat, Allah menyuruh kita segera mengejar Syurga. Yakni dengan cara melakukan alam soleh atau amal kebaikan seperti berjuang, berkhidmat kepada masyarakat, bersedekah, menahan marah, memaafkan kesalahan orang dan sebagainya.
Orang yang tidak bertaubat artinya orang yang berdosa. Jika dalam waktu yang sama ia beribadah atau menghadap Allah, perbandingannya sama dengan seorang rakyat datang menghadap raja. Seorang yang terlibat dengan dosa-dosa besar seperti seorang rakyat yang mau bertemu raja, sedangkan seluruh badan dan pakaiannya penuh dengan najis kotoran anjing yang sangat busuk dan sangat menjijikkan. Najis kotoran anjing itu kan najis mughallazah, yakni najis yang amat berat. Jadi bukan saja tidak dapat bertemu dengan raja, bahkan waktu di pagar istana lagi dia sudah ditangkap dan dihukum penjara oleh pengawal-pengawal istana, dianggap mengotori majlis istana.
Adapun orang yang melakukan dosa-dosa kecil seperti seorang rakyat yang mau bertemu dengan raja tapi badan dan pakaiannya penuh dengan najis kotoran ayam atau kotoran kucing atau kotoran lembu yang sangat dibenci oleh orang. Seperti nasib orang tadi juga, belum sempat bertemu dengan raja, di pagar istana lagi sudah ditangkap dan dihukum penjara. Cuma hukumannya mungkin agak ringan sedikit dibandingkan dengan orang yang pertama tadi.
Demikianlah juga terjadi dengan orang yang melakukan perbuatan-perbuatan makruh. Orang ini seperti orang yang badan dan pakaiannya penuh dengan lumpur atau debu-debu dan abu atau peluh yang busuk dan berbau hapak tapi bukan bernajis. Tiba-tiba mau menghadap raja. Mungkin dia tidak dihalang untuk ke majelis raja tapi akan dimarahi dan ditempeleng oleh pengawal raja dianggap tidak bersopan. Walaupun tidak ditangkap dan dipenjara tapi akan diberi malu juga dimarahi.
Oleh karena itu untuk bertemu raja harus ada syarat-syaratnya yang harus dijaga supaya senantiasa berdisiplin yaitu kemas, bersih, rapi dan tahu adab-adab menghadap raja. Kalau tidak, di luar istana lagi dihalau, tidak diterima masuk menghadap dan ditangkap untuk dipenjarakan. Demikianlah juga dengan orang-orang yang melakukan kesalahan, apakah dosa-dosa besar maupun dosa-dosa kecil, kalau tidak bertaubat, di Akhirat dia tidak berpeluang melihat zat Allah yang Maha Indah. Sebaliknya, tempatnya adalah Neraka yang amat pedih dan amat dahsyatnya. Yang melakukan perbuatan makruh kalau tidak bertaubat walaupun tidak diazab dengan siksaan Neraka tapi Allah memandang dengan penuh benci. Dia dimarahi, dihardik dan diberi malu di depan makhluk-makhluk lain. Sehingga malu yang dirasakan pada kita waktu itu tidak terhingga dan terkata. Sehingga cair dan gugurlah segala daging-daging berjatuhan dari urat-urat dan kulit-kulit daging dan akhirnya tinggallah rangka-rangka yang sangat buruk dan mengerikan. Begitulah penanggungan malu yang dirasakan waktu itu.
Itu baru azab malu sudah tidak mampu ditanggung oleh kita. Hanya baru terlihat perbuatan makruh, yang Allah sudah benci. Gambarkanlah siksaan yang akan ditanggung kalau melakukan dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil. Sudah tentu sangat pedih azab dan siksanya. Oleh karena itu marilah kita sama-sama bertaubat dari segala dosa-dosa. Baik dosa-dosa besar, dosa-dosa kecil dan perbuatan yang dibenci yaitu makruh. Moga-moga kita menjadi orang yang bertaubat dan taubat kita diterima oleh Allah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: