Oleh: kendalisodo | 7 April 2009

MENYIKAPI UJIAN KEHIDUPAN

Lomba Hubad 2008Kehidupan Manusia
a. Manusia diciptakan Allah tak lain untuk mengabdi atau beribadah kepada-Nya. Baik ibadah dalam arti khusus (seperti shalat, zakat, puasa, haji, berdzikir, I’tikaf), maupun ibadah dalam arti umum (yaitu semua aktivitas yang tidak bertentangan dengan syari’at agama).
b. Manusia diberi akal oleh Allah agar bisa berfikir, serta diberi kemerdekaan atau kebebasan untuk memilih alternatif : yang benar atau yang salah, yang baik atau yang buruk, yang indah atau yang awutan-awutan. Itulah sebabnya manusia disebut sebagai makhluk berakal, sebaik-baik makhluk, makhluk berbudaya, makhluk beradab, makhluk sosial.
c. Manusia bisa berreka cipta dengan akalnya, dan menghasilkan kebenaran atau kekeliruan logika. Bisa beramong karsa dengan kehendaknya, dan menghasilkan kebaikan atau keburukan etika. Bisa berolah rasa dengan perasaannya dan menghasilkan keindahan atau keamburadulan estetika.
d. Oleh karenanya manusia harus bersikap hati-hati dalam memilih alternatif dan mengunakan kebebasannya itu, karena sesungguhnya Allah telah menyediakan rambu-rambu. agar manusia dapat mengendalikan kebebasannya, demi kebahagiaan hidupnya di dunia maupun di akhirat kelak. Rambu-rambu tersebut berupa perintah dan larangan Allah, yang bagi umat muslim diyakini terdapat di dalam Al-qur’an dan Al-hadist.
e. Dengan rambu-rambu itulah Allah memilah-milahkan manusia. Mana yang bertaqwa dan mana yang ingkar kepada-Nya. Mana yang akan menjadi penghuni sorga dan mana yang akan menjadi penghuni neraka. Selain itu. Allah juga menguji manusia tentang sejauh mana kadar keimanan dan ketaqwaannya. Tentang bagaimana kita seharusnya menyikapi ujian dari Allah tersebut, marilah kita simak uraian berikut.

Bentuk Ujian dari Allah dan Bagaimana Kita menyikapinya.
a. Ujian dapat berbentuk ketakutan, kecemasan. kekhawatiran, kegelisahan, kelaparan, kekurangan harta (materi), terancamnya jiwa, kurangnya buah-buahan (bahan pangan). Solusinya adalah bersikap sabar dan tawakal sambil terus berusaha mengatasi kesulitan tersebut seraya berucap : “Sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya jua kami akan kembali”. Selain itu perlu terus memohon ampunan. rahmat, hidayah dan inayah Allah agar diselamatkan dari kesulitan/musibah.
b. Bentuk ujian yang kedua adalah berupa keanekaragaman kemajemukan umat, agar dari kondisi yang seperti itu, manusia terdorong untuk berlomba-lomba melakukan kebajikan. Kalau Allah menghendaki, bisa saja manusia di planet bumi ini dijadikan hanya satu macam umat saja. misalnya semuanya menganut satu agama atau semuanya berkulit sawo matang. Tetapi Allah tidak melakukannva karena ingin menguji umatnya. Terhadap ujian berupa kemajemukan umat ini, hendaknya kita bisa mengembangkan sikap saling mengerti, saling menghargai dan sikap saling menolong satu sama lain secara sinerjetik.
c. Ujian yang ketiga adalah berbentuk perbedaan sifat atau perangai yang berkaitan dengan perilaku akhlak atau budi pekerti. Ada golongan manusia yang saleh dan baik tabiatnya, sehingga kehadirannya selalu menyejukkan serta memberikan manfaat bagi orang lain. Tetapi ada pula golongan manusia yang maksiat dan buruk tabiatnya, sehingga ucapan maupun perbuatannya selalu mengganggu ketenteraman dan kemerdekaan orang lain, ini semua dimaksudkan agar manusia terpanggil untuk selalu kembali kepada jalan kebenaran. Terhadap ujian seperti ini, kita hendaknya bisa bersikap tegas dan arif dalam menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar, demi kepentingan masyarakat luas. Dalam hal ini, peranan para pemimpin sangatlah besar untuk dapat menggunakan kewenangannya secara adil dan bijaksana, serta mampu memposisikan dirinya sebagai teladan dan panutan bagi lingkungan yang menjadi tanggung jawab kepemimpinannya.
d. Bentuk ujian yang keempat adalah berupa kenikmatan seperti pangkat, jabatan, kehormatan, kemashuran, kecantikan, termasuk karunia harta dan anak-anak. Apabila kita bisa dengan tepat menyikapi ujian berupa nikmat tersebut, maka sesungguhnya Allah akan menyediakan pahala yang besar. Caranya adalah dengan memanfaatkan dan memperlakukan harta karunia Allah yang merupakan amanah tersebut pada jalan yang diperintahkan dan diridhoinya, bukan pada jalan sesat dan maksiat yang dilaknat Allah. Pangkat dan jabatan hendaknya ditunaikan secara baik sesuai dengan kewenangannya, bukannya dijalankan secara sewenang-wenang. Sebagian harta karunia Allah yang memang merupakan hak orang lain, haruslah disisihkan untuk shadaqah, infaq dan zakat. Anak-anak yang merupakan amanah Allah harus pula dididik dan dipelihara serta diperlakukan sesuai tuntunan syari’at agama.
e. Ujian lain yang bisa diturunkan kepada suatu kaum di sebuah negeri, adalah anugerah Allah berupa suasana yang aman dan tenteram, rizqinya melimpah ruah dari segala penjuru sebagai wujud dari besarnya nikmat dan karunia Allah kepada penduduk negeri itu. Tetapi kemudian mereka ingkar (kufur) terhadap nikmat Allah tersebut. SDA dan SDM dikelola secara kurang bertanggung jawab. Kerusakan dan pencemaran lingkungan serta kerakusan dan keserakahan melanda di mana-mana. Kesewenangan-wenangan dan ketidakadilan serta maksiat dan kemungkaran merajalela ke semua lapisan dan golongan masyarakat. Akibatnya Allah memberi rasa kepada mereka berupa pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan oleh perbuatan mereka yang salah dalam menyikapi ujian Allah berupa kenikmatan tadi. Seharusnya mereka mensyukuri nikmat Allah tadi, dengan berupaya mengolah dan mendayagunakan segala SDA dan SDM secara rasional, efisien dan bertanggung jawab, sehingga membuahkan keadilan dan kemakmuran bagi kesejahteraan seluruh rakyat, dalam rahmat dan ridho serta ampunan dan inayah-Nya.

Beberapa peringatan Allah untuk kita Renungkan
a. Allah mengingatkan, bahwa kebanyakan manusia keliru dalam menyikapi ujian Allah. Meski telah berulang kali diuji oleh Allah, tetapi mereka tidak juga mau sadar dan bertaubat. Mereka tidak mau mengambil pelajaran serta memetik hikmat dan berbagai ujian tadi, untuk meluruskan arah perjalanan hidupnya menuju pada kebenaran.
b. Allah akan selalu menguji manusia dengan kesusahan dan kesenangan, agar manusia dapat bersikap teguh dan mantap atas kadar keimanannya, serta agar selalu ingat bahwa suatu saat ia akan mati menghadap Sang Khaliq untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di dunia. Ujian berupa kesenangan (nikmat) hendaknya disikapi dengan masa syukur, sedangkan ujian berupa kesusahan (musibah) hendaknya disikapi dengan bersabar.
c. Allah juga mengingatkan, bahwa sebagian manusia oleh Allah dijadikan ujian bagi manusia lainnya. Dan manusia harus bisa bersikap sabar atas ujian Allah tersebut. Yang dimaksud dengan “sebagian manusia” bisa anak atau orang tua, suami atau isteri, mertua atau menantu, atasan atau bawahan, yang memimpin atau yang dipimpin, teman atau tetangga, guru atau munid. supir atau penumpang, penjual dan pembeli.
d. Ujian Allah memang diperlukan bagi manusia, agar ketahuan siapa yang lebih baik amainya dan agar manusia mau mawas din untuk kembali kepada kebenaran dan memperbaiki kehidupannya. Hakikat dari sebuah ujian adalah untuk menaikkan tingkat atau derajat seseorang bila bisa lulus ujian tersebut.
e. Manusia jangan sekali-kali mengira, bahwa dirinya akan dibiarkan oleh Allah untuk berkata : “Kami telah beriman “, sedangkan mereka tidak diuji. Mereka akan terus diuji sebagaimana orang-orang sebelumnya, sehingga nampak jelas siapa orang-orang yang benar dan siapa pula orang-orang yang dusta.

Kesimpulan.
a. Ujian dan Allah dapat berupa kesusahan (musibah) dan dapat pula berupa kesenangan (nikmat). Kedua-duanya harus disikapi secara tepat, agar kita tidak menyesal di kemudian hari.
b. Dalam menghadapi ujian berupa musibah, hendaknya kita bersikap sabar, istiqamah dan tawakal disertai ikhtiar tanpa mengenal putus asa dari rahmat Allah. Biasanya di balik musibah tersebut terdapat hikmah yang bisa dipetik.
c. Dalam menghadapi ujian berupa kenikmatan, hendaknya kita selalu ingat bahwa semua itu hanyalah merupakan amanah Allah yang sifatnya sementara. Didalamnya terdapat kewajiban untuk mendayagunakan dan memperlakukan kenikmatan tersebut sesuai tuntunan syariat agama.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: